Categories
General Seruan

Sikap: Awas Jebakan! Boikot Pertemuan Selasa 31/1/23 di Depan Kantor Arema FC!

Pada tanggal 30 Januari 2023, tersiar pesan broadcast yang diteruskan berulang-ulang melalui berbagai macam grup whatsapp dan pesan pribadi. Broadcast tersebut disinyalir memiliki keterhubungan dengan kelompok Aremania yang berupaya menghadang aksi kawan-kawan Aremania akar rumput dalam upaya menuntut Arema FC.

 

Terlihat dalam pesan broadcast tersebut, bahwa:

  1. Pertemuan yang diselenggarakan pukul 12.00 di Kantor Arema FC akan membahas perihal pengrusakan neon box logo Arema FC.
  2. Terdapat catatan untuk mengenakan atribut berwarna biru.
  3. Terdapat catatan dengan rencana pemasangan ulang logo Arema FC.
  4. Peliputan oleh media massa terkait hasil rapat koordinasi dan statement bersama atas nama forum Aremania Malang Raya yang berkumpul.

Sehubungan dengan pertemuan ini, pasca-aksi demonstrasi di Kantor Arema FC pada tanggal 29 Januari 2023, Management Arema FC melalui Ongisnade.net sebagai media propagandanya menyatakan bahwa pihak management telah mempertimbangkan pembubaran klub.

“Jika sebelumnya kita memikirkan banyak masyarakat Malang yang hidup dari sepakbola utamanya Arema FC seperti UMKM, pedagang kaki lima sampai usaha kecil lainnya. Tapi jika dirasa Arema FC ini mengganggu kondusifitas, tentu ada pertimbangan tersendiri terkait eksistensinya atau seperti apa tapi kami tetap menyerahkan kepada banyak pihak.” ujar Tatang.

Management Arema FC terus menerus berkelit dan berusaha menghindar dari kesalahannya.  Wibie Andriyas, selaku manager Arema FC, mengatakan bahwa dirinya siap berdialog dengan Aremania dan juga menyayangkan aksi yang berujung bentrok tersebut.

Secara kronologis, bentrok antar Aremania dengan preman, pers rilis Arema FC, pernyataan Tatang, Wibie, pelaporan Arema FC ke kepolisian, dan penangkapan ratusan massa aksi cukup terhubung. Melalui pernyataan Tatang yang kami cetak tebal tersebut, kami menyimpulkan bahwa seluruh rentetan peristiwa ini saling terhubung dan sepenuhnya artifisial (diciptakan). Bagi kami, aktor utama yang mengendalikan dinamika lapangan terkait situasi konflik yang semakin meruncing ini adalah Manajemen Arema FC. Kami menilai, bahwa pernyataan Tatang adalah landasan utama bagi pertemuan yang akan diselenggarakan pukul 12.00 nanti.

Manajemen tidak hanya berusaha menjadikan dirinya korban (playing victim) namun juga berupaya untuk memobilisir kelompok Aremania yang ada di bawah naungannya untuk membenarkan pernyataan Tatang dalam rangka memukul balik gerakan akar rumput Arek Malang secara keseluruhan: mempertahankan Arema FC untuk terus berlaga dan tidak bubar, mengecam dan memburu demonstran 29/1, dan menghentikan protes terhadap Manajemen Arema FC dengan menciptakan konflik horisontal (antar tribun, antar klub, antar daerah) yang pada akhirnya, akan disikapi oleh Arema FC dengan jargon lawas: ‘Arema mempersatukan Arek-arek Malang’ yang akan semakin membendung protes pada klub dan membenarkan tindakannya.

Dengan kondisi obyektif tersebut, Aremania Korwil Bawah Tanah menyerukan kepada seluruh kawan-kawan untuk MEMBOIKOT pertemuan 31/1/2023 dan segala hal yang berhubungan dengan pengumpulan massa oleh Arema FC. Tidak ada dialog yang harus dibangun hari ini. Sudah cukup terlambat untuk berdialog dengan bajingan-bajingan mata duitan dan teman polisi. Di samping itu, kami juga turut menyerukan kepada kawan-kawan untuk tidak mendekat dan menghindari Kantor Arema FC. Bagi kami, keselamatan kawan-kawan Aremania jauh lebih penting dan mahal harganya dibanding sebuah pertemuan atas nama Arek Malang yang dikendalikan oleh elit suporter dan pihak manajemen.

Langkah yang ditempuh Manajemen Arema FC saat ini menunjukkan bahwa mereka sama sekali lupa pada 135 korban jiwa akibat Tragedi Kanjuruhan. Orientasi pada keberlangsungan hidup klub dan gelagat anti-kritiknya justru memperlihatkan adanya jarak yang membentang dengan ekstrem diantara suporter dan klubnya. Identitas Arema yang dikapitalisasi ini harus dihentikan.

Salam Satu Jiwa!