Categories
Berita

Wawancara dengan Korban Penangkapan Massal Aksi Arek Malang Bersikap: “Penyidik Login Akun Instagram Saya di Ponselnya!”

Pasca aksi Arek Malang Bersikap pada tanggal 29 Januari 2023 lalu, media arus utama memberitakan aksi dan peristiwa penangkapan ratusan orang dan kriminalisasi pada 8 orang Aremania dengan serampangan–seperti halnya tindak penangkapan aparat kepolisian itu sendiri. Informasi hanya digali dari satu pihak. Sedangkan publik tidak dapat menerima dan mengakses informasi apapun dari mereka yang menjadi korban. 

Aremania Korwil Bawah Tanah berkesempatan untuk melakukan wawancara dengan salah seorang korban salah tangkap aparat kepolisian pasca-aksi penggerudukan kantor pada 29 Januari 2023, yang berujung kepada penangkapan 108 orang dan kriminalisasi terhadap 8 orang sisanya. 

Tujuan kami mewawancarai korban adalah untuk menggali informasi dari sudut pandangnya terkait kronologi aksi, bagaimana penangkapan masal terjadi, dan bagaimana tindakan aparat kepolisian selama proses penahanan massa yang ditangkap. Wawancara ini dimaksudkan sebagai pengimbang narasi arus utama yang meninggalkan aspek kriminalisasi terhadap demonstran.

Halo. Bolehkah kamu memperkenalkan diri terlebih dahulu?
Halo! Perkenalkan nama Gue Bunga. Yap, benar, gue berasal dari ****** dan merantau ke Malang. Gue juga bukanlah seorang Arek Malang asli, dan bukan Aremania. Gue adalah salah satu orang pecinta klub sepak bola Jakarta. Gue juga adalah seorang korban salah tangkap aparat kepolisian pada aksi “Arek Malang Bersikap” tanggal 29 Januari 2023 lalu.

Bagaimana bisa kamu mengetahui informasi akan adanya aksi protes ke kantor Arema FC? Bolehkah menceritakannya?
Pada hari sebelumnya, gue mendapat informasi dari salah satu akun forum di Instagram. Akun tersebut turut menyebarkan pamflet terkait aksi yang akan dilakukan keesokan harinya. Karena kebetulan sedang berada di Malang, gue tertarik untuk mengikuti aksi tersebut.

Boleh ceritakan bagaimana kronologi kamu bisa berada di titik aksi? Berangkat dengan siapa, darimana, dan apakah mengetahui akan adanya kerusuhan?
Memang, gue datang kesana dengan berniat mengikuti aksi tersebut. Tapi saya tidak melakukan tindak kerusuhan apapun. Gue turut bersuara tanpa sedikit pun menyentuh benda-benda untuk merusak kantor Arema FC. Kedatangan gue ke titik aksi dibersamai oleh seorang kawan perempuan gue, yang juga mengajak salah seorang lagi kawannya.

Keberangkatan kami ada di waktu yang berbeda. Kawan gue datang lebih dulu di titik kumpul gue cukup ngaret. Gue berangkat dari arah Kedungkandang, sedang salah seorang kawan dari Kasin. Sebelumnya, kami berdua tidak mengetahui apakah akan terjadi kerusuhan atau tidak saat aksi digelar. Sehingga, kami cukup santai saja.

Di media, dan menurut berbagai kesaksian partisipan demonstrasi, aksi kerusuhan disebabkan oleh provokasi yang dilakukan orang yang menjaga kantor, boleh ceritakan kronologi dari sudut pandangmu sendiri?
Untuk hal ini, gue kurang tahu menahu apakah terjadi provokasi atau tidak. Namun, sepengetahuan gue, massa aksi kesal dengan perlakuan salah seorang penjaga kantor Arema FC. Sehingga, amarah massa aksi makin tak tertahan saat mengetahui seorang tersebut berada disana.

Apakah kamu mencatat dan ingat dengan baik kronologi penangkapanmu? Jika iya, apakah penangkapanmu disertai surat penangkapan yang kamu ketahui? Dan bagaimana proses menuju polres? Saat itu pasti jadi saat yang menegangkan, bagaimana perasaanmu saat tiba-tiba ditangkap? Apakah kamu sempat berusaha menolaknya?

Karena hujan deras, gue dan kawan menepi dan berteduh di Taman Makam Pahlawan, tepatnya di depan gapura gang Jl. Cianjur. Walau hujan deras, massa aksi belum membubarkan diri. Mereka masih berkumpul di parkiran Taman Makam Pahlawan. Entah hal apa yang coba disuarakan oleh massa aksi.

Sembari menunggu hujan reda, kami duduk dan nimbrung dengan warga sekitar untuk bercerita dan ngobrolin banyak hal. Gue juga sedang menanti jemputan ojek online karena saya hendak pulang. Menurut gue sendiri, aksi tersebut sudah selesai. Tidak lama kemudian, gue ngeliat ke arah belakang yang ternyata sudah ramai sekali mobil patroli polisi. Gue pikir “Ah, kali aja ngurusin yang jatuh disitu.” Karena memang sebelumnya terjadi kecelakaan di dekat lokasi. Tapi makin lama, aparat menghampiri kami.  “Buset ada apa nih?” batin gue.

Benar saja, kami ditangkap dan dibawa tanpa persetujuan dan tanpa disertai surat penangkapan. Mereka bilang, “Ayo ikut!” Kami berdua (dengan kawan gue) saling beradu tatap keheranan. Gue mencoba menjawab mereka “Ada apa ya Pak? Saya tidak terlibat perusakan kantor, saya sedari tadi duduk-duduk disini sama bapak-bapak warga ini.” Jawaban mereka? “Sudah ikut aja. Nanti jelaskan di kantor. Terus kalau gak ikut aksi, ngapain pakai hitam-hitam?” Kami semakin heran.

Mereka memaksa kami untuk naik ke mobil tersebut dengan ponsel dan kartu identitas (KTP) disita. Btw, kedatangan aparat ke lokasi sangat terlambat. Massa aksi telah membubarkan diri pada pukul 13.00 sedangkan aparat datang ke lokasi untuk melakukan penangkapan pada pukul 14.00 yang mana, terduga pelaku perusakan tidak ada di lokasi dan menyisakan orang-orang yang sama sekali tidak terlibat.

Selama di polres, adakah kekerasan verbal maupun fisik yang menimpamu? Atau seseorang lainnya di dalam? Ceritakan pengalamanmu saat berada di Polres
Gue pikir, hanya kami saja yang menjadi korban penangkapan aparat kepolisian. Namun saat sudah berada di Polres dan massa dikumpulkan, gue kaget. Karena ternyata sebanyak itu yang menjadi korban salah tangkap. Bahkan, banyak sekali anak-anak di bawah umur yang menjadi korban.

Tidak ada kekerasan verbal maupun fisik yang menimpa gue selama di Polres. Gue juga kurang mengetahui apakah yang lain juga sama atau tidak. Selama 14 jam menunggu hasil proses penyidikan, benar-benar dibuat jenuh karena prosesnya sangat lama dan mengulur waktu. Iya dapat makan, tapi kami butuh kejalasan bukan makan.

Dari 107-108 orang yang ditangkap, apakah kamu mengingat kapan kamu bebas? adakah bantuan hukum yang mendampingimu?
Penangkapan dimulai pada pukul 14.00 WIB dan bagi yang perempuan, dibebaskan pukul 04.00 WIB karena telah terbukti tidak terkait dengan insiden perusakan kantor. Tidak ada sama sekali bantuan hukum yang mendampingi kami, para korban. Oiya, yang lebih nggak sopan, penyidik login akun Instagram gue di ponselnya. Mungkin penyidik mengetahui username dan password Instagram gue dari chat WhatsApp (dari ponsel yang disita tadi).

Berikut adalah bukti tangkapan layar bahwa akun instagram narasumber mendapatkan notifikasi masuk dari perangkat lain di saat pemeriksaan.

Adakah keterangan yang dimintai oleh aparat kepolisian? Jika iya, perihal apa saja yang diminta?

Selama penyidikan berlangsung, gue dimintai keterangan mengenai beberapa hal, yakni:
1. Identitas
2. Mengapa ada di TKP
3. Darimana mengetahui info aksi tersebut
4. Jika tidak terlibat, mengapa memakai baju berwarna hitam-hitam
5. Dimana lokasi terkena penangkapan massal
6. Siapa saja yang melakukan aksi perusakan kantor Arema FC
7. Bagaiamana kejadian aksi tersebut
8. Supporter mana saja yang terlibat aksi tersebut
Selebihnya gue nggak begitu mengingatnya. Namun, pertanyaan-pertanyaan itu menjadi pertanyaan inti semua yang mencakup kejadian tersebut.

Sejauh ini, bagaimana kondisimu? Apakah sempat mengalami intimidasi lanjutan atau bagaimana?
Sejauh ini tidak ada intimidasi lanjutan. Tapi saya cukup was-was. Sebab gue yakin kalau akun Instagram gue sudah dipantau oleh pihak Polres. Bagaimana gue tahu? Sebelumnya udah gue jelasin di akun personal gue.

Sebelumnya aksi ke kantor Arema FC, Aremania dan warga malang melakukan aksi di berbagai titik yang tersebar, apakah pernah mengikuti aksi-aksi demonstrasi serupa dalam #UsutTuntas? Jika iya, bolehkah kami mendengar pandanganmu tentang aksi-aksi tersebut?
Sebelumnya, gue nggak pernah mengikuti aksi-aksi demonstrasi #UsutTuntas di Malang. Aksi kemarin adalah aksi pertama yang gue ikuti di Malang. Tapi di Jakarta, pernah ada aksi-aksi demonstrasi serupa pada tanggal 30 Oktober 2022, dan gue ikut dalam aksi tersebut.

Apa harapanmu untuk gerakan ini ke depannya?
Terakhir, harapan gue untuk gerakan aksi-aksi lanjutan dalam rangka #UsutTuntas agar lebih berhati-hati dan jaga kawan kanan-kiri kalian. Jangan sampai kejadian penangkapan massal kemarin terulang kembali. Teruslah memperjuangkan keadilan, karena memang sepantasnya perjuangan ini dilakukan. Bebaskan 8 Tahanan Arek Malang! Sebab mereka semua bukan kriminal! Mereka hanya berusaha bersuara untuk mendapatkan keadilan yang tidak kunjung menemui titik terangnya.
Oh ya, satu lagi, tetap waspada saat melakukan aksi, karena intel ada bersama kalian. Mereka ikut nimbrung dalam barisan, layaknya seorang supporter yang turut serta menyuarakan #UsutTuntas.