Korwil Bawah Tanah berkesempatan untuk berkorespondensi dengan salah seorang partisipan aksi demonstrasi ke Kantor Arema FC. Narasumber berkenan untuk menuliskan pengalamannya dalam bentuk cerita singkat. Naskah telah disunting oleh editor.
Malang, 06 Februari 2023
Kesaksianku Mengikuti Aksi “Arek Malang Bersikap”
Ini adalah pengalaman pertamaku mengikuti aksi demonstrasi yang diwarnai bentrokan sejak awal aksi. Pada tanggal 29 Januari 2023 lalu, aku mengikuti aksi “Arek Malang Bersikap” di depan kantor Manajemen AREMA FC. Tapi ini bukan aksi pertama yang digelar untuk mengkritik sikap klub yang dinilai nirempati, namun aksi lanjutan dari aksi pertama yang telah digelar pada tanggal 15 januari 2023 silam. Aku mengikuti aksi “Arek Malang Bersikap” pada gelaran pertama dan kedua.
Pada aksi yang pertama, aku mengetahui akan adanya rencana aksi ini dari flyer yang aku lihat di twitter dan aku mengikutinya sendirian karena teman-temanku menolak ajakanku untuk ikut aksi. Secara spontan aku datang. Saat itu, aku merasa canggung ketika datang sendirian ke titik kumpul di dekat kantor Manajemen AREMA FC. Hanya dua orang yang aku kenal diantara kurang lebih 50-an massa aksi yang berkumpul. Tapi karena terlanjur kuparkirkan motorku di titik kumpul, aku pun cuek dan tetap bergabung dengan massa aksi yang lain. Longmarch pun dimulai dari titik kumpul menuju depan kantor manajemen AREMA FC, dan sesampainya disana kami dihadang oleh sekumpulan orang yang menjaga kantor itu. Saat orasi sedang dibacakan, beberapa kali orang-orang yang menjaga kantor berupaya mengintimidasi massa aksi, tapi sang orator tak gentar sama sekali. Setelah beberapa menit orasi dibacakan, salah seorang yang dikemudian hari kuketahui bernama Ferry Dampit, mengambil alih megaphone dan meminta seluruh massa aksi untuk mendoakan seluruh korban Tragedi Kanjuruhan. Setelah doa selesai, tiba-tiba beberapa massa aksi mendekat ke arah kaca kantor dan mulai menempelkan poster dan sticker hingga bersitegang dengan beberapa orang penjaga kantor namun tidak sampai ada keributan yang berarti disana. Massa aksi pun kemudian berjalan meninggalkan kantor menuju tempat parkir atau titik kumpul semula, dan disana disepakati agar seluruh massa aksi bergeser menuju sebuah taman di dekat Jalan Ijen untuk menggelar evaluasi aksi kecil-kecilan. Di Taman itu evaluasi pun digelar secara singkat, namun aku tidak begitu memperhatikan karena memang kelelahan setelah aksi berpanas-panasan sebelumnya.
Disana, aku sempat berkenalan dan ngobrol dengan beberapa orang yang kemudian aku ketahui kalau mayoritas dari mereka berasal dari Dampit, salah satu kecamatan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Lumajang. Selama beberapa menit ngobrol dengan mereka, aku mendengar banyak keluh kesah mereka mengamati proses pengusutan Tragedi Kanjuruhan yang tak kunjung menemui titik terang. Di kecamatan Dampit sendiri, terdapat tiga korban meninggal dunia, yakni Ruli James Dewarjo (29 tahun), Linda Setya (18 tahun), dan Helen Prisela (20 tahun).
Rasa penasaranku terhadap massa aksi dari Dampit ini membuatku bertanya-tanya, orang-orang kabupaten (desa) yang selama ini aku pandang remeh ternyata telah melakukan langkah-langkah yang menurutku sangat progresif. Beberapa temanku memberitahu bahwa orang-orang dari Dampit ini sebelumnya sudah pernah melakukan audiensi dengan Polres Kabupaten Malang. Mereka menanyakan proses kelanjutan pengusutan Tragedi Kanjuruhan ini dengan sangat kritis kepada Wakapolres Kabupaten Malang, aku mengetahui dialog mereka dengan pihak Polres dari channel youtube. Dari video youtube yang aku tonton itu juga, aku melihat Ferry Dampit menanyakan beberapa hal mengenai Tragedi Kanjuruhan ini dengan sangat kritis. Sejak saat itu, aku menaruh rasa hormat yang tinggi kepada orang-orang Dampit ini. Bagiku, mereka ini bukan sekedar gerombolan yang suka caper dengan menggelar aksi demonstrasi, mereka hanya sekumpulan orang-orang yang memang benar-benar ingin menuntut keadilan bagi seluruh korban Tragedi Kanjuruhan, terutama korban yang berasal dari daerah mereka sendiri, Dampit.
Selang hampir dua minggu setelah aksi tanggal 15 Januari 2023 itu, aku melihat beberapa flyer ajakan aksi di kantor manajemen AREMA FC lagi. Lagi-lagi melalui twitter. Pada flyer itu tertulis judul aksi “Arek Malang Bersikap” yang akan menggelar aksi hari Minggu, 29 januari 2023. Aku pun antusias untuk mengikutinya dan mengajak beberapa temanku untuk ikut juga. Sebab aku tahu bahwa nama “Arek Malang Bersikap” adalah nama aliansi yang diisi orang-orang yang aku temui pada aksi sebelumnya.
Pada saat hari digelarnya aksi itu tiba, keberangkatanku kali ini tidak sendirian, melainkan bersama beberapa teman. Kami pergi menuju titik kumpul di sekitaran Taman Makam Pahlawan Jalan Veteran Malang. Disana sudah ramai orang memarkirkan motornya, kemudian berkenalanlah kami dengan beberapa orang yang telah hadir duluan. Setelah menunggu hampir satu jam lamanya, massa aksi yang telah berkumpul membludak di parkiran. Perkiraanku, jumlahnya hampir seribu orang dengan mayoritas mengenakan atribut serba hitam dan penutup wajah. Longmarch menuju kantor manajemen AREMA FC pun dimulai dengan diiringi lagu Bagimu Negeri yang melantun sampai muka kantor.
Karena aku berada di barisan yang tak begitu jauh dari barisan terdepan, sempat aku melihat dengan mata kepalaku sendiri betapa garangnya orang-orang penjaga kantor menyambut massa aksi. Kehadiran kami disambut dengan tudingan jari tangan mereka sembari meriakkan kata-kata makian kepada massa aksi dibarisan terdepan. “Hei Jancok!” terdengar di telingaku. Para penjaga kantor juga menuding wajah massa aksi dan menantang adu pukul. Salah seorang dari mereka aku ketahui sempat melemparkan batu ke arah kami. Massa aksi dari bagian tengah yang tersulut emosinya melempar balik batu ke arah penjaga kantor. Tanpa aku duga, ternyata banyak dari bagian massa demonstran juga tersulut amarahnya dan membalas lemparan batu dengan jumlah yang lebih banyak. Balasan lemparan batu dari massa aksi tersebut, berujung pada pecahnya kaca official store AREMA FC. Beberapa massa aksi juga ada yang melemparkan kantong-kantong plastik berisi cairan cat ke arah para penjaga kantor. Para penjaga kantor yang sedari awal terus-menerus mengintimidasi massa aksi membuat situasi semakin ricuh dan kacau. Baku pukul antar para penjaga dengan bagian dari massa aksi tidak terhindarkan juga. Bahkan, seorang massa aksi hampir saja terkena sabetan pisau. Karena dari kejauhan, aku juga melihat salah seorang penjaga kantor mengacungkan sebilah pisau dan berupaya melemparkannya ke arah massa aksi. Beruntung, hal itu berhasil dicegah oleh penjaga kantor yang lainnya.
Setelah situasi ricuh berangsur-angsur mereda dan massa mulai menguaraikan diri, aku melihat kobaran api di tengah jalan yang kemudian kuketahui bahwa itu berasal dari papan logo AREMA FC yang dibakar massa aksi yang marah tersulut emosinya karena kehadiran mereka disambut dengan tindakan intimidatif dari para penjaga kantor. Tak lama kemudian ada dua orang menaiki dan berdiri di atas atap mobil angkutan kota yang terparkir di depan kantor, ternyata orang itu adalah Ferry Dampit dan seorang di sampingnya yang aku tidak ketahui namanya. Ferry Dampit pun mulai membacakan orasinya yang berjudul “Permohonan Maaf”, aku tidak begitu mengingat secara detail apa saja yang dibacakannya. Yang aku ingat, ia membacakan permohonan maaf yang ditujukan kepada seluruh masyarakat Indonesia, warga Malang Raya, klub-klub sepak bola diseluruh Indonesia, keluarga korban Tragedi Kanjuruhan dan yang paling mengagetkan ia juga membacakan permohonan maaf kepada Manajemen, Pemain, dan Crew Persebaya Surabaya karena adanya tindakan intimidatif supporter AREMA FC kepada mereka sesaat setelah pertandingan melawan Persebaya yang berujung pada Tragedi Kanjuruhan 01 Oktober 2022 itu usai. Aku mengingat hal tersebut karena pembacaan maaf dibacakan bersama-sama oleh seluruh massa aksi.
Setelah pembacaan orasi, Ferry Dampit mulai menghimbau massa aksi untuk kembali ke titik kumpul sekaligus tempat parkir agar tak terjadi kerusuhan selanjutnya. Hari itu juga sudah mulai gerimis. Yang mengejutkan, saat massa aksi mulai berjalan kembali menuju titik kumpul, massa aksi hampir saja bersitegang lagi karena diprovokasi oleh beberapa penjaga kantor namun berhasil diredam. Sesampainya di titik kumpul, massa aksi mengerubungi sumber suara megaphone, karena aku berada sedikit jauh dari kerumunan sumber suara itu, aku tidak begitu mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan. Karena hujan semakin deras, aku segera mengambil motor dan kemudian bergegas pulang ke rumah. Ini karena aku lupa memasukkan jas hujan ke dalam jok motor.
Sesampainya di rumah, aku membuka handphone dan segera memantau linimasa twitter. Aku cukup syok. Karena ternyata banyak massa aksi yang ditangkap oleh polisi. Dari foto dan video penangkapan yang beredar, massa aksi yang ditangkap adalah mereka yang sedang berteduh di minimarket dekat Taman Makam Pahlawan, warung-warung kopi dekat Taman Makam Pahlawan, bahkan sampai warung-warung kopi di sekitaran belakang balai kota dan pasar bunga splendid yang jaraknya beberapa kilometer dari kantor manajemen AREMA FC. Penangkapan ini menurutku sangatlah janggal, aku menduga penangkapan ini adalah “suruhan” dari pihak tertentu karena lokasi penangkapannya bisa sampai jauh dari titik aksi atau kantor manajemen AREMA FC. Bahkan, aku kaget saat melihat laporan di twitter bahwa banyak orang-orang yang menjadi korban asal tangkap yang dilakukan oleh pihak kepolisian. Hal ini terbukti dari seratus lebih orang yang ditangkap, hampir semuanya dilepaskan kembali dan hanya menyisakan tujuh orang yang kemudian ditetapkan sebagai tersangka.
Dari berita yang beredar, dari tujuh tersangka ini, lima orang diantaranya berasal dari Dampit termasuk Ferry Dampit, satu orang dari Pujon, dan satu orang lagi dari Pakis, semuanya dari wilayah Kabupaten Malang. Aku pun ikut was-was dan tegang saat mengetahui kabar penangkapan itu, karena saat mengikuti aksi aku tidak menggunakan masker sehingga memungkinkan orang dapat memotret atau merekam wajahku. Tapi lambat laun, rasa was-wasku hilang karena aku memang merasa tidak terlibat dalam kerusuhan dan hanya berpartisipasi untuk hadir dalam aksi demonstrasi itu.
Sampai kutuliskan cerita pengalamanku ini, aku masih tidak percaya bahwa Ferry Dampit dan beberapa orang lainnya ditetapkan sebagai tersangka. Aku tidak begitu mengenalinya, tapi ancaman hukuman yang sangat berat bahkan lebih berat dari ancaman hukuman bagi tersangka Tragedi Kanjuruhan menurutku sangatlah tidak adil. Sejujurnya, dalam hatiku juga merasa tidak terima dengan pasal yang dikenakan kepada Ferry Dampit. Bahkan pasal 160 KUHP tentang penghasutan yang dikenakan kepada Ferry Dampit dan satu orang lainnya, menurutku juga tidak tepat. Karena bisa dibuktikan dari banyaknya video-video aksi di depan kantor manajemen AREMA FC yang bisa dilihat di berbagai channel youtube yang justru memperlihatkan bahwa Ferry Dampit tampak berupaya menenangkan massa aksi yang marah dan ia berupaya menghalau massa aksi dengan megaphone ketika akan membalas intimidasi dari para penjaga kantor.
Masalah hukum yang harus dihadapi Ferry Dampit dan 6 tersangka lainnya ini menjadi ironi penegakan hukum di Indonesia, orang-orang yang berani memperjuangkan keadilan bagi korban Tragedi Kanjuruhan justru diancam dengan hukuman yang jauh lebih berat dibanding tersangka dari Tragedi Kanjuruhan itu sendiri. Bahkan, proses penetapannya sebagai tersangka pun juga jauh lebih cepat dibanding proses penetapan tersangka Tragedi Kanjuruhan. Aku berharap ketujuh tersangka yang merupakan orator dan peserta aksi “Arek Malang Bersikap” ini mendapatkan keadilan yang seadil-adilnya. Malangkuçeçwara!
Usut Tuntas Tragedi Kanjuruhan!
Salam hormatku,
Remer K.
