Sejatinya, sepak bola dan ruang: desa dan kampung kota, tak akan pernah bisa dipisahkan. Keduanya akan selalu saling terhubung dalam realitas bahwa sepak bola dinikmati oleh warga dalam konteks ruang tersebut dan sebaliknya, bahwa ruang dapat menciptakan sepak bola. Karenanya, para pemilik ruang adalah pemilik sepak bola yang sesungguhnya.
Kampung kota adalah bagian dari tubuh yang dilukai puluhan tembakan Gas Air Mata yang menewaskan anak-anaknya. Hujan proyektil di setiap tribun akan selalu berarti hujan air mata dan rasa sakit pada setiap gang di tiap kampung kota. Kekerasan negara membuat sepak bola dan ruang tercerai berai: terampasnya sepak bola dari tangan warga, dan kehilangan yang membuat patah hati keluarga. Saat ini, adalah saatnya kampung dan desa saling menguatkan: bersolidaritas.
KALIAN SEMUA DIUNDANG!
